Makam Pajimatan Imogiri

Selamat datang di Kompleks Makam Pajimatan Imogiri.

Makam Pajimatan Imogiri terbagi dalam beberapa kompleks pemakaman yang disebut kedhaton. Masing-masing kedhaton memiliki tiga halaman.

Halaman pertama yang berada paling atas merupakan pemakaman raja beserta kerabat terdekatnya, sedangkan pada halaman kedua yang berada di tengah dan halaman ketiga yang berada di bawah merupakan halaman yang digunakan untuk persiapan bagi peziarah. Masing-masing halaman dihubungkan dengan sebuah pintu gerbang atau gapura.

Bangunan tertinggi di Makam Pajimatan Imogiri adalah makam Sultan Agung yang terletak di Kedhaton Sultanagungan.

Nisan makam Sultan Agung terbuat dari Sela Cendani dan dilindungi oleh sebuah bangunan yang bernama Prabayeksa Sultan Agung dan untuk mencapainya harus melewati gapura papak.

Kedhaton Sultanagungan seolah menjadi pusat dari beberapa kedhaton yang dibangun setelahnya.

Ratusan tahun berdiri di puncak bukit, Makam Pajimatan Imogiri menjadi saksi kejayaan dan pasang surut Kerajaan Mataram beserta kerajaan-kerajaan penerusnya.

Tatkala Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti, namun raja-rajanya tetap berpulang pada satu tempat peristirahatan terakhir yang sama.

Kebesaran nama, warisan kearifan, dan kisah perjuangan mereka terpahat abadi di puncak Imogiri. Hingga saat ini, Makam Pajimatan Imogiri dikelola bersama oleh Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dengan menempatkan masing-masing abdi dalemnya.

Pada Kompleks Makam Pajimatan Imogiri terdapat berbagai komponen bangunan, antara lain berupa: Gapura Supit Urang, Padasan/Enceh/Kong, Bangunan Proboyekso Sultan Agung, dan Bangsal.


Gapura Sapit Urang.

Dinamakan Supit Urang karena bentuknya mirip udang sebagai simbol strategi perang kerajaan Mataram.

Ragam hiasnya berupa variasi hiasan antefik dan hiasan bujur sangkar pada kaki pilar gapura yang diisi striliran bunga matahari, serta perpaduan garis-garis atau list pelipit yang tersusun semakin keatas semakin runcing.

Gapura Supit Urang mencirikan candi-candi Gaya Jawa Timur, berbentuk bentar dan secara simbolik merupakan gapura pertama untuk masuk ke semua pemakaman.

Masing-masing kedhaton di kompleks Makam Pajimatan Imogiri memiliki gapura utama sebagai pintu masuk, agar pandangan orang tidak langsung melihat bagian dalam sebuah bangunan maka dibangunlah kelir, yang berfungsi sebagai penghalang pandangan.


Padasan/ Enceh/Kong.

Makam Pajimatan Imogiri memiliki 4 buah padasan/enceh/kong, yang terletak di halaman Kamandhungan.

Padasan merupakan tempat berwudhu berbentuk gentong. Masyarakat setempat sering pula menyebut padasan dengan istilah enceh atau kong. Padasan tersebut merupakan persembahan atau hadiah raja-raja dari kerajaan lain untuk Sultan Agung.

Enceh/padasan diberi nama Kyai Mendhung dan Nyai Siyem. Kedua enceh ini merupakan persembahan dari Raja Ngerum (Turki) dan Raja Siyem (Thailand), enceh tersebut berada di kompleks pemakaman untuk raja-raja Kasunanan Surakarta.

Sedangkan enceh lainnya berada di sebelah barat tangga regol Sri Manganti. Kedua enceh tersebut diberi nama Kyai Danumaya dari Aceh dan Nyai Danumurti dari Palembang, enceh tersebut berada di kompleks pemakaman untuk raja-raja Kasultanan Yogyakarta.


Prabayeksa Sultan Agung.

Proboyekso Sultan Agung merupakan bangunan yang paling disakralkan karena merupakan makam Sultan Agung.

Bangunan ini menghadap ke arah selatan dan pintu masuknya terletak di sebelah timur.

Ukuran pintu bangunan ini cukup rendah sehingga harus membungkukkan badan jika akan memasukinya.

Pada sisi timur terdapat ruangan semacam serambi yang disebut “penanggap”.

Bangunan Proboyeksa Sultan Agung tidak memiliki jendela, sehingga suasana di dalam cukup gelap karena tidak ada penerangan lampu maupun sinar matahari yang masuk.


Bangsal.

Bangsal secara umum berfungsi untuk tempat caos atau tugas para abdi dalem, selain itu bangsa juga sering digunakan untuk tempat tunggu para peziarah yang akan ke makam. Bangunan bangsal ini berada di depan Masjid Pajimatan.

Raja yang dimakamkan di Makam Pajimatan Imogiri, beberapa diantaranya dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia, yaitu:


Sultan Agung.

Pada pemerintahan Presiden Soekarno, Sultan Agung mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106/TK Tahun 1975, tanggal 3 November 1975.


Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Sri Sultan Hamengkubuwana I mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 10 November 2006.


Sri Sultan Hamengkubuwana IX.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 8 Juni 2003.


Sri Susuhunan Paku Buwana VI.

Sri Susuhunan Paku Buwana VI mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294/64 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964.


Sri Susuhunan Paku Buwana X.

Sri Susuhunan Paku Buwana X mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59/TK Tahun 2009, tanggal 6 November 2009.

slide 3 to 12 of 12