Kedhaton Kasuwargan Yogyakarta

RAJA-RAJA YANG DIMAKAMKAN DI KEDHATON KASUWARGAN YOGYAKARTA.


SULTAN HAMENGKU BUWONO I.

Wilayah Kekuasaan: Kasultanan Yogyakarta

Peristiwa Penting:

  • Pembangunan ibukota Keraton Yogyakarta dengan konsep sumbu filosofis.
  • Penulisan Serat Cebolek, menggambarkan mengenai kebiasaan beliau puasa Senin-Kamis, shalat lima waktu dan juga mengaji Al-Quran.
  • Mencetuskan konsep Watak Satriya seperti: Nyawiji (konsentrasi total), greget (semangat jiwa), sengguh (percaya diri) dan ora mingguh (penuh tanggung jawab).
  • Mengajarkan falsafah golong gilig manunggaling kawula Gusti (hubungan yang erat antara rakyat dengan raja dan antara umat dengan Tuhan) serta Hamemayu Hayuning Bawono (menjaga kelestarian alam).
  • Menciptakan Beksan Lawung, Tarian Wayang Wong Lakon Gondowerdaya, Tarian Eteng, dan seni Wayang Purwo.
  • Menciptakan gendhing kehormatan raja "Raja Manggala" dan "Tedhak Saking".
  • Pembangunan Makam Pajimatan Imogiri (Kedhaton Kasuwargan Yogyakarta).


SULTAN HAMENGKU BUWONO III.

Wilayah Kekuasaan: Kasultanan Yogyakarta

Peristiwa Penting: 

  • Pembangunan Kampung Ketandan.
  • Mendatangkan sebuah kereta kuda dari Inggris dengan tahan peluru yang diberi nama Kyai Mondro Juwolo.
  • Menyerahkan 4.000 cacah wilayah Adikarto (saat ini Kabupaten Kulon Progo) kepada Pangeran Notokusumo yang kemudian menjadi Pangeran Merdika (otonom) di dalam Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I (1813-1829).


CATATAN:

SULTAN HAMENGKU BUWONO II.

Wafat pada tahun 1828 dan dimakamkan di Makam Hastana Kitha Ageng Kotagede karena pada saat itu sedang berkecamuk Perang Jawa sehingga tidak memungkinkan untuk diadakan prosesi hingga Makam Raja-Raja di Imogiri

Wilayah Kekuasaan: Kasultanan Yogyakarta

Peristiwa Penting:

  • Membangun Benteng Baluwarti yang dilengkapi meriam pada tahun 1785.
  • Naik takhta pada tahun 1792 menggantikan Sultan Hamengku Buwono I.
  • Turun takhta pada tahun 1810 digantikan Sultan Hamengku Buwono III.
  • Naik takhta pada tahun 1811 menggantikan Sultan Hamengku Buwono III.
  • Membentuk korps/satuan keprajuritan yang dilengkapi dengan perlengkapan dan persenjataan yang lebih baik.
  • Geger Geger Sepehi pada tahun 1812, dibawah pimpinan Letnan Gubernur Inggris, Thomas Stamford Raffles, Keraton Yogyakarta diserang oleh prajurit Sepoy asal India pada tanggal 20 Juni 1812. Akibat gempuran tersebut, Keraton diduduki, harta benda termasuk ribuan karya sastra Jawa dijarah, Sri Sultan Hamengku Buwono II ditangkap dan kemudian diasingkan ke Pulau Pinang hingga tahun 1815.
  • Turun takhta pada tahun 1812 digantikan Sultan Hamengku Buwono III, Sultan Hamengku Buwono IV, Sultan Hamengku Buwono V.
  • Diasingkan ke ambon pada tahun 1817.
  • Naik takhta pada tahun 1826 menggantikan Sultan Hamengku Buwono V setelah dipulangkan dari Ambon.-Penulisan Babad Nitik Ngayogya dan Babad Mangkubumi, menceritakan perjuangan berdirinya Keraton Yogyakarta.
  • Penulisan Serat Baron Sekender dan Serat Suryaraja, merupakan karya pustaka yang dijadikan pusaka bagi Keraton Yogyakarta.
  • Memerintahkan membuat berbagai bentuk wayang kulit dengan watak perang dan menggubah wayang orang dengan lakon Jayapusaka. Tokoh utama dalam lakon tersebut adalah Bima yang begitu tepat menggambarkan watak jujur, keras dan juga tegas dari Sri Sultan Hamengku Buwono II.

slide 3 to 12 of 12